PROPOSAL PENELITIAN
PENGARUH METODE DRILL TERHADAP MENGAPRESIASI PUISI
BARU SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 7 PADANGSIDIMPUAN
Diajukan
sebagai salah satu syarat dalam memulai penyusunan skripsi pada
STKIP
“Tapanuli Selatan” Padangsidimpuan
OLEH:
LELA HERAWATI HSB
NPM: 07070221
Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Seni
Program
Studi : Pendidikan Bahasa Indonesia
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
(STKIP) “TAPANULI SELATAN”
PADANGSIDIMPUAN
2012
PENGARUH METODE DRILL TERHADAP MENGAPRESIASI PUISI
BARU SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 7 PADANGSIDIMPUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Pendidikan
memegang perenan penting untuk kemajuan bangsa dan Negara karena semakin tinggi
kualitas manusia warga dari suatu Negara semakin jelas terlihat kemajuan Negara
tersebut, yang sudah tentu diperoleh melalui pendidikan. Pendidikan merupakan
suatu usaha untuk membantu seseorang atau sekelompok orang supaya mereka dapat
meningkatkan taraf hidup serta kedewasaan berpikir dan berbuat yang merupakan
salah satu aspek kehidupan dalam kebutuhan manusia.
Proses
pendidikan itu merupakan satu kesatuan yang menyeluruh, ini dilihat pada
perkembangan sesoerang dari bayi, anak-anak, remaja sampai dewasa yang
terlaksanakan secara formal maupun informal seperti di rumah, di lingkungan
masyarakat, sekolah hingga ke perguruan tinggi. Dimana dalam suatu pendidikan
merupakan dasar utama untuk masa depan generasi bangsa yang lebih baik sesuai
dengan pendidikan nasional.
Ditinjau dari
tujuan pengajaran bahasa Indonesia khususnya pada tingkat SMP/MTs bertujuan
agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. “Memahami
bahasa Indonesia dan menggunakannnya tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
2. Memenuhi
tuntutan kebutuhan kemampuan berbahasa Indonesia
3. Mengembangkan
dan melestarikan bahasa sangat efektif
4. Berkomunikasi
secarea kognitif dan efisien sesuai etika yang berlaku
5. Menikmati
dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan dan kemampuan berbahasa
6. Menghargai
dan bangga menggunakan bahasa Indoensia sebagai bahasa persatuan”[1]
Dalam
keberhasilan proses belajar mengajar akan memberi peluang tercapainya hasil
belajar siswa, karena pada umumnya hasil belajar siswa di sekolah merupakan
gambaran, bagaimana siswa dalam memahami atau menerima pelajaran yang
disampaikan guru, akan tetapi ini juga bisa disebabkan dari pihak guru dalam
menguasai pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan.
Metode
pembelajaran telah berkembang pesat, tidak hanya metode ceramah, diskusi, Tanya
jawab dan demosntrasi tetapi tidak mengurus kepada pembelajaran yang
digolongkan dalam bentuk kerja sama. Salah satu metode pembelajran yang ingin
dipakai adalah metode drill. Metode drill merupakan metode pembelajaran yang
dikembangkan dengan mengacu pada berbagai pendekatan belajar yang diasumsikan
mampu meningkatkan kualitas belajar mengajar, sedangkan guru bertindak sebagai
fasiliatator.
Perlu
diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu pemilihan model pembelajaran akan
tergantung tujuan pembelajarannya, kesesuaian dengan materi pembelajaran,
tingkat perkembangan peserta didik (siswa), kemampuan guru dalam mengelola
pembelajran serta mengoptimalkan sumber-sumber belajar.
Adapun
langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam mengaparesiasi puisi baru: Upaya
mengeluarkan sesuatu dari dalam diri manusia.
Metode drill
adalah salah satu metode yang digunakan oleh guru dala mengajarkan materi pokok
pembeljaran khususnya dalam mengajarakan puisi baru. Metode drill digunakan
oleh guru yaitu memberikan latihan-latihan kepada siswa sehingga terlatih dan
mampu mengapresiasi puisi baru.
Kenyataan di
lapangan masih banyak guru menerapan pembelajran yang bersifat konvensional
yaitu pembelajran masih terpusat pada guru. Hal ini dapat dibuat daftar
kumpulan nilai (DKN) di SMP Negeri 7 Padangsidimpuan, yang mana nilai rata-rata
nilai ujian semester genap kelas IX SMP Negeri 7 Padangsidimpuan pada tahun
2010/2011 yang lalu, yaitu “70” berada pada kategori baik, kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 75.”[2]
Berasal dari kategori baik .melihat dari rata-rata paling tidaknya dipertahankan.
Berdasarkan
latar belakang yang penulis uaraikan di atas, maka penulis mengadakan penelitian dengan judul penelitian yaitu “Pengaruh
Metode Drill Terhadap Mengapresiasi Puisi Baru Siswa Kelas VIII SMP Negeri 7
Padangsidimpuan”
B.
Rumusan
Masalah
Bertitik dari
latar belakang masalah yang telah peneliti uraiakan di atas, maka yang menjadi
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana
gambaran penggunaan metode drill di kelas VIII SMP Negeri 7 Padangsidimpuan?
2. Bagaimana
hasil belajar siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia pada materi pokok
mengapresiasi puisi baru di kelas VIII SMP Negeri 7 Padangsidimpuan?
3. Adakah
pengaruh antara penggunaan metode drill terhadap hasil belajar bahasa Indonesia
siswa pada materi pokok mengapresiasi puisi baru di kelas VIII SMP Negeri 7
Padangsidimpuan?
C.
Deskripsi
Teoretis
1.
Hakikat
Hasil Belajar Bahasa Indonesia Mengapresiasi Puisi Baru
Belajar
merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Hasdan
mengemukakan bahwa, “Belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap.”[3]
Dari teori
tersebut perubahan yang terjadi pada diri siswa yang dalam hal ini perubahan
yang positif setelaha dilalui dengan proses pembelajaran dengan memperoleh
sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
Dimyati
mengatakan bahwa, “hasil belajar adalah hasil dari suatu interaksi tindak
belajar dan tindak mengajar.”[4]
Sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Sisi
siswa hasil belajar merupakan kompetensi atau kecakapan yang dimilikinya.
Mengapresiasi
puisi baru adalah yang membahas secara
mendalam tentang puisi-puisi baru sehingga menimbulkan wawasan yang baik dari
sebuah puisi. Dalam mempelajari bahasa Indonesia manusia dapat berbahasa yang
lebih baik dan mengerti agar setiap suatu masalah dapat diselesaikan dengan
baik.
Sedangkan
menurut Mian Rumini “Mengapresiasi puisi baru adalah salah satu menjembatani
pengakrapan puisi dengan penikmat.”[5]
Berdasarkan
teori tersebut di atas maka penulis simpulkan bahwa mengapresiasi puisi baru
harus membahas secara mendalam supaya menimbulkan wawasan yang lebih baik.
a.
Diksi
Diksi berarti
“pilihan kata yang tepat & selaras (dalam penggunaannya) untuk
mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang
diharapkan)”
Puisi menuntut seorang penyair untuk
dapat mengungkapkan gagasan kreatifnya secara ringkas namun berdaya guna
menghasilkan efek tertentu pd pembaca.Efek yg dimaksud tsb akan sangat
bergantung kpd daya apresiasi pembaca atas karya puisi dimaksud. Efek tsb adlh
“efek puitik”, yaitu efek, baik yg kasat mata maupun yang tidak kasat mata, di
sisi pembaca sebagai tanggapan atas pembacaannya pd sebuah karya puisi. Efek
puitik ini bisa saja sama atau berbeda antara pembaca satu dan yg lainnya sebab
sangat bergantung pd “bekal puitik” yg dimilikinya (storage).
Menurut Ekosasih merupakan “Diksi
kata-kata yang ditulis dan dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima
dan irama”[6]
Berdasarkan teori di atas penulis
simpulkan bahwa diksi merupakan pilihan kata di dalam penulisan puisi.
b.
Kata
Konkret
Menurut Mian
Rumini, “Kata konkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang
memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau
lambang. Misalnya kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan
hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat
kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.”[7]
Berdasarkan
teori di atas penulis simpulkan bahwa kata konkret merupakan kata konkret yang
dapat ditangkap melalui indra atau imajinasi.
c.
Majas
(Gaya Bahasa)
Gaya bahasa, yaitu penggunaan bahasa yang dapat
menghidupkan/ meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa
figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna
atau kaya akan makna. Gaya bahasa disebut juga majas. Adapaun macam-macam majas
antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi,
sinekdoke,
eufemisme, repetisi,
anafora, pleonasme, antitesis,
alusio, klimaks, antiklimaks,
satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks. Menurut Sunarti majas adalah “Bahasa
kiasan atau bahasa yang indah yang ditujukan untuk meningkatkan epek tertentu”[8]
2.
Hakikat
Pembelajaran Metode Drill
Belajar akan
lebih bermakna jika anak mengetahui apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya
pelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam
kompetensi mengingat dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak
memecahkan masalah dalam jangka panjang. Menurut Juhairini: “Metode drill
merupakan metode dalam pengajaran dengan jalan melatih anak didik terhadap
bahan pelajaran yang sudah diberikan.
Secara umum
pembelajaran dengan metode latihan (drill) biasanya digunakan agar siswa: (1)
memiliki kemampuan motoris/gerak, seperti menghafalkan kata-kata, menulis dan
mempergunakan alat; (2) mengembangkan kecakapan intelektual, seperti
mengalikan, membagi, menjumlahkan; dan (3) memiliki kemampuan menghubungkan
antara sesuatu keadaan dengan yang lain.”[9]
a.
Langkah-langkah
Pengunaan Metode Drill
Pelaksanaan
metode drill terkdang mengalami beberapa hambatan, terutama yang terkait dengan
kesiapan guru dan pengkondisian kelas.
Metode drill
pada umumnya digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan
dari apa yang telah dipelajari. Menurut Juhairini: “Metode drill adalah suatu
metode dalam pengjaran dengan jalan melatih anak didik terhadap bahan pelajaran yang sudah
diberikan.”[10]
Penggunaan suatu
metode pembelajaran berarti perlu ada suatu langkah-langkah. Adapun
langkah-langkah penggunaan metode ini menurut Armei adalah :
a. “Drill
hanyal untuk bahan atau tindakan yang bersifat otomatis
b. Latihan
harus memiliki arti dalam rangka yang lebih luas.
c. Latihan-latihan
itu pertama harus ditekankan kepada diagnosa.
d. Masa
latihan harus relative singkat, tetapi harus sering dilakukan pada waktu lain.
e. Masa
latihan harus menarik, gembira dan menyenangkan.
f. Proses
latihan dan kebutuhan harus disesuaikan dengan perbedaan individu.”[11]
Langkah-langkah
penggunaan metode drill di atas dapat disimpulkan bahwa latihan diharapkan
dapat betul-betul bermanfaat bagi siswa untuk menguasai kecakapan tersebut,
serta dapat menumbuhkan untuk melengkapi penguasaan pelajaran yang diterima
secara teori dan praktek.
b.
Kelebihan
Metode Drill
Metode
pembelajaran jelas terdapat beberapa kelebihan seperti halnya metode drill, sebagaimana yang dikemukakan
oleh Syaiful Sagala “Metode Drill adalah suatu cara mengajar yang baik untuk
menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu.”[12]
Penggunaaan
suatu metode pembelajaran meliputi kelebihan, adapun kelebihan metode drill ini
menurut Syaiful Sagala :
1) “Pembentukan
kebiasaan yang dilakukan dengan mempergunakan metode ini akan menambah
ketepatan dan kecepatan pelaksanaan;
2) Pemanfaatan
kebiasaan-kebiasaaan tidak memerlukan banyak konsentrasi dalam pelaksanaannnya;
dan
3) Pembentukan
kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang kompleks.”[13]
Dari kelebihan
metode drill ini penulis dapat menyimpulkan bahwa pelajaran yang disampaikan
guru tidak membosankan siswa dalam menerima pelajaran yang disampaikan guru
dalam proses belajar mengajar di sekolah.
c.
Kelemahan
Metode Drill
Semua metode,
pasti terdapat kelemahan atau kekuarangan. Demikian halnya dengan metode drill.
Menurut Syaiful Bahri “Metode drill adalah digunakan untuk memperoleh suatu
ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari.”[14]
Hal yang sama,
sebagaimana yang dikemukakan oleh Syaiful Bahri ada beberapa
kelemahan-kelemahan metode ini diantaranya:
1) Latihan
yang dilakukan di bawah pengwasan yang ketat;
2) Latihan
yang terlampau berat;
3) Tekanan
yang terlalu berat;
4) Latihan
yang selalu diberikan guru di bawah bimbingan guru;
5) Karena
tujuan latihan adalah untuk memperkokoh asosiasi tertentu, maka siswa akan
merasa terasa terasing terhadap semua struktur-struktur baru dan menimbulkan
perasaan tidak berdaya.”[15]
Dari penjelasan
di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa metode drill adalah latihan dengan
praktek yang dilakukan berulang kali untuk mendapatkan keterampilan dan
ketangkasan praktis dalam mengapresiasi puisi baru.
D.
Kerangka
Berpikir
Dalam
penyampaian materi pelajaran guru tidak bias lagi dengan metode yang monoton,
guru harus mendemonstrasikan atau mencontohkan (memodelkan) materi yang akan
disampaikan agar siswa lebih mendalaminya. Peran guru guru sebagai motivator
penting artinya dalam rangka menciptakan kegairahan dan pengembangan kegiatan
belajar siswa.
Berdasarkan
penjelasan deskripsi teoretis di atas yang menjelaskan bahwa metode drill
digunakan dalam mengajarkan apresiasi puisi baru memberikan berbagai latihan
kepada siswa sehingga mereka mempunyai pengetahuan, kemudian lebih mudah
memahami materi pelajaran khususnya dalam mengapresiasi puisi baru.
E.
Pengajuan
Hipotesis
Hipotesis adalah
suatu dugaan yang benar atau mungkin salah yang harus diuji kebenarannya
melalui analisa data yang dikumpulkann oleh penelitian. Sebagaimana Hadari
Nawawi mengatakan: “Hipotesis adalah kesimpulan yang belum final dalam arti
masih harus dibuktikan atau diuji kebenarannya.”[16]
Hipotesis meruapakan suatu pernyataan yang penting kedudukannya dalam
penelitian oleh karena itulah, maka dari peneliti dituntut kemampuannya untuk
dapat merumuskan hipotesis dengan jelas, hal yang sudah Suharsimi Arikunto
mengatakan bahwa persyaratan untuk hipotesis adalah sebagai berikut :
1. Hipotesis
harus dirumuskan dengan singkat dan jelas
2. Hipotesis
harus dengan nyata menunjukkan ada pengaruh antara dua variabel atau lebih
variabel
3. Hipotesis
harus didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil
penelitian yang relevan.”[17]
Berdasarkan
uraian kerangka berpikir di atas, maka penulis menetapkan hipotesis bahwa
“Adanya pengaruh penggunaan antara metode drill terhadap mengapresiasi puisi
baru kelas VIII SMP Negeri 7 Padangsidimpuan.”
F.
Metodologi
Penelitian
1.
Tempat
dan Waktu Penelitian
Penelitian
dilaksanakan di SMP Negeri 7 Padangsidimpuan. Penetapan lokasi penelitian ini
didasarkan atas pertimbangan bahwa masalah pengaruh metode pengajaran drill
terhadap mengapresiasi puisi baru di kelas VIII SMP Negeri 7 Padangsidimpuan
belum pernah diteliti pada sekolah tersebut. Di samping itu SMP Negeri 7
Padangsidimpuan dapat dijangkau dan merupakan tempat saya mengajar, sehingga
penulis lebih mudah untuk mengambil data yang dibutuhkan.
Dalam pelaksanaan penelitian ini memerlukan
waktu selama kurang lebih tiga bulan yaitu mulai dari Februari sampai April
2012.
[1] SMP
Negeri 7 Padangsidimpuan, Kurikulum
Bahasa Indonesia, (Padangsidimpuan:SMP Negeri 7 Padangsidimpuan Tahuan
Pelajaran 2011/2012).
[2] SMP Negeri 7
Padangsidimpuan, Daftar Kumpulan Nilai
(DKN) Semester 2, (Padangsidimpuan : SMP Negeri 7 Padangsidimpuan, Tahun
Pelajaran 2010/2011
[4] Dimyati, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2009), hal. 9
[5] Mian Rumini, Pengajaran Apresiasi Sastra, (Jakarta:
Universitas Terbuka, 2007), hal. 63
[6] E. Kosasih, Ketata Bahasaan dan Kesusastraan, (Bandung:
CV. Yrama Widy, 2004), hal. 235
[7] Mian Rumini, op.cit, hal. 68
[8] Sunarti, Bahasa dan Sastra Indonesia, (Bandung :
Pustaka Setia, 2007), hal.185
[9] Juhairini, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan
Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 174
[12]
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna
Pembelajaran, (Bandung:Alfabeta),hal.217
[15]
Syaiful Bahri, Ibid
[16]
Hadari Nawawi,Metode Penelitian Bidang
Sosial,(Yogyakarta:Gajah Mada University Press, 2004),hal.44
[17] Suharsimi Arikunto,Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan
Praktek,( Jakarta:Rineka Cipta, 2003),hal.13.
